Agam's posts with tag: achmad albar
What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
Penasaran dengan profil Achmad Albar dan God Bless, saya buka arsip majalah Tempo dan menemukan edisi Tempo yang Fokus Utamanya adalah Achmad Albar, bahkan menjadi sampul. waktu Tempo ini diterbitkan, saya berumur kurang dari satu tahun. Edisi. 30/V/27 September - 03 Oktober 1975 | Achmad albar God bless yang lahir belum 3 tahun yang lalu tetap bertahan pada musik rock yang belum banyak penggemarnya. pada god bless musik tampak sebagai panggilan hidup bukan sebagai jenjang kekayaan. (fk) | HAMPIR bisa dipastikan, Koes Plus kini tidak lagi menjadi raja musik pop. Beberapa kelompok yang lahir belakangan seperti The Lloyd, Mercy's atau Bimbo misalnya, makin lama malah makin tambah penggemarnya. Diketahui, yang berhasil mematok diri secara kukuh sampai sekarang ini baru Bimbo. Grup asal Bandung itu, walaupun terlibat kompromi dengan kebijaksanaan cukong (rekaman dangdutnya misalnya terasa dipaksakan) masih sempat menelurkan hasil-hasil bagus dan menelurkan warna musik tertentu (boleh dilihat pula lagu-lagu kasidahnya yang paling baru). Akan halnya Koes Plus, The Lloyd, Panbers, Favourite's, Mercy's maupun AKA, walaupun yang terakhir ini sukses dengan musik rock, akhirnya toh tampak sebagai grup pencari uang yan biasa, yang memang tak usah disalahkan sebagai orang dagang. Tapi dalam hal itulah God Bless lantas kelihatan. Lahir belum tiga tahun yang lalu, grup ini masih kukuh dengan pendiriannya untuk tidak tunduk pada selera umum sepetti diwakili oleh pengusaha rekaman. Tetap bertahan pada musik rock yang diketahui tidak atau belum banyak penggemarnya, mungkin Ahmad Albar dan kawan-kawan sebenarnya bisa saja mencoba-coba merekam jenis-jenis lain (pop melayu, pop mandarin, pop daerah, pop barat) yang kadang dikatakan sedang merupakan tambang emas. Namun, sambil mengingat bahwa belum tentu percobaan mereka akan menelurkan mutu, secara tidak berlebihan bisa dikatakan bahwa pada God Bless kelihatan arti lapangan kerja--musik--tidak semata-mata sebagai jenjang kekayaan--walaupun dibanding grup-grup lainnya, mereka ini sekarang tidak bisa dikatakan kaya. Pada God Bless ini musik tampak sebagai "panggilan hidup", istilah yang biasanya muncul di kalangan seniman dan idealis lainnya, baik kecap maupun tidak. Memang mungkin juga 'fanatisme' pada rock -- entah sampai kapan disebabkan oleh cara hidup dan lingkungan yang mengantarkan Ahmad ke jenjang karier. Dan karena itulah kami fikir tak ada salahnya untuk mengetengahkan secara apa adanya tokoh muda ini dari segi pribadi. Siapa tahu pula barangkali cara ini lebih tepat dibanding pembicaraan serius dan mendalam terhadap prestasi grup yang belum punya rekaman itu. Untuk itu Yusril Jalinus, yang menulis laporan ini dengan bantuan Eddy Hewanto, pulang-balik mevawancarai keluarga yang di dalam musik sebenarnya merupakan "keturunan gambus". Nah, mudah-mudahan cukup ringan. Selamat berpuasa pembaca. Bapaknya gambus, anaknya rock Ayah achmad, syech albar adalah tokoh gambus yang populer, sedang achmad sendiri menyukai musik rock walaupun musik rock kurang komersil. ia ingin mempelopori musik rock dalam bahasa indonesia. (ms) | DI atas pentas, tubuhnya yang nampak tipis sering dibalut pakaian yang agak aneh. Kadang-kadang hanya memakai singlet atau rompi, sepatu bot se tinggi lutut, atau semacam mantel hitam seperti punya Zorro. Mik yang dipegang pada gagangnya sering diangkat-angkat, dihunjam-hunjamkan. Kalang-kadang diputar-putar di atas kepalanya, seperti atlit pelempar martil. Namun sambutan penonton pada setiap pertunjukan God Bless yang selalu melimpah itu tidak melulu karena dandanan atau ulah Achmad Albar semacam itu. Tampil pertama kali di TIM bulan Mei 1973, bukan saja mampu menyisihkan The Young Cypsi dan One Dee And LadJ Faces--dua grup yang mendampinginya malam itu tapi sekaligus juga berhasil membaptiskan diri sebagai grup pop yang unggul membawakan musik rock. Suksesnya yang pertama disusul dengan sambutan meriah pada setiap penampilan berikutnya. Di Teater Terbuka TIM, di pesta terbuka Summer 28 Ragunan. Bahkan dalam pesta terbuka Kemarau 75 di lapangan Gedung Sate Bandung akhir Agustus kemarin, God Bless sekali lagi membuktikan dirinya sebagai grup yang paling berhasil dibanding ke-11 peserta lainnya. Di hadapan penonton yang ngamuk Achmad Albar yang muncul hampir pada buntut acara, berhasil menghentikan hujan sandal dan batu. Ratusan ribu remaja itu bahkan berteriak "terus....lagi....lagi....". Tanya: Anda selalu memainkan musik rock. Padahal anda lahir dari keluarga pemain gambus. Ayah anda, Syech Albar, adalah tokoh gambus yang pernah populer. Kenapa anda tidak bermain gambus pula? Jawab: Ketika ayah meninggal saya belum tiga tahun. Saya tidak mengenal almarhum secara langsung. Lagi pula sejak itu musik gambus jarang diputar lagi di rumah. Sehingga hampir tak ada pengaruhnya pada jiwa saya. Tapi saya bangga, ayah saya orang yang terkenal. Dan sekarang saya ingin juga sepopuler dia. T: Anda tahu bahwa musik rock belum banyak peminatnya kecuali kaum remaja. Itu pun jumlahnya terbatas. Kenapa anda ingin bertahan dengan musik jenis itu? Kenapa misalnya tidak nerekam lagu-lagu dangdut yang komersil, seperti yang kebanyakan dilakukan oleh grup-grup lain? J: Saya tahu musik rock kurang komersil. Tapi bagi Saya main musik bukan untuk cari uang melulu. Kalau tujuannya begitu dari dulu lebih baik merekam lagu-lagu dangdut saja misalnya. Untuk mempertahankan hidup saya bisa cari uang di bidang lain. Saya memainkan musik yang saya sukai musik rock. Dan saya selalu mencari sesuatu yang baru. Kalau misalnya nanti lahir musik baru dan saya merasa cocok, saya akan ambil dan musik rock saja tinggalkan. Shampo Bungkus Lahir di Surabaya, 16 Juli 1946, Achmad Albar adalah anak keempat Syech Albar anak kedua Farida AlHasni. Tinggal di Bandung selama tujuh tahun, keluarganya kemudian menetap di Jakarta hingga sekarang. "Saya tak pernah ingin jadi dokter atau insinyur. Cita-cita saya kepengin jadi bintang film yang baik dan penyanyi yang baik", ucap Achmad. Dan keinginannya kemudian terkabul lewat film Jenderal Kancil ketika ia berumur 12 tahum Honornya sebanyak Rp 1.600 diserahkan kepada ibunya. "Saya masih ingat, saya cuma minta dibelikan jam tangan". Filmnya yang kedua Kapten Kecil tidak sempat rampung. Sebab sutradaranya, seorang India, keburu pulang ke negerinya. Setelah itu kesempatan di bidang film hampir tak pernah diperolehnya lagi. Ia lebih banyak memberikan perhatian pada musik. Sempat juga bergabung dengan band Quarta Nada bersama Salanti Bersaudara (Titik Qadarsih). Namun ketika ada larangan memainkan musik-musik semacam rock dan Beatles serta rambut gondrong, Achmad Albar merasa tertekan. Tanpa tujuan jelas, selepas SMA tahun 1965, dengan ongkos ibunya dia pergi ke Negeri Belanda sendirian. "Saya ingin mencari kebebasan di sana", katanya. Hampir delapan tahun di Negeri Belanda (tinggal bersama keluarga pamannya) Achmad tidak sempat mencicipi pendidikan musik yang memadai. Di sebuah sekolah musik--dia mengambil jurusan gitar klasik--hanya dijalaninya selama tiga bulan. "Karena itu saya cuma sedikit-sedikit saja bisa membaca not balok", katanya. Meski begitu ia toh berhasil mengorbitkan Clover Leaf, grup pop yang didirikan bersama kawan-kawannya, dalam deretan band-band dunia yang lagu-launya banyak digemari orang. Bahkan beberapa di antaranya seperti Time Will Show dan Don't Spoil My Day sempat nangkring di puncak tangga lagu-lagu. Dengan modal pengalaman itu Achmad yang kembali lagi ke Jakarta awal 1973 yang lalu dan membentuk God Bless. Tapi Jakarta bukan Belanda. Dengan cuma show-show, apa lagi menampilkan musik rock, Achmad tentu tidak bisa mengeruk duit banyak. Sementara ibunya yang kini tidak punya rumah sendiri (tinggal di rumah kontrakan) perlu mendapatkan bantuan. Dengan show saja, sekali main, God Bless saat ini cuma dibayar rata-rata Rp 750 ribu. Jumlah ini harus dipotong 40 persen oleh manejernya yang memiliki instrumen dan perlengkapan sistim suara. Sisanya tentu saja masih harus dibagi di antara anggota grup yang jumlahnya sekitar lima orang. Untuk tambahan penghasilannya, Achmad kini aktif lagi di bidang film. Bahkan menjadi foto model untuk sebuah merek jeans, dengan kontrak dua tahun dengan bayaran Rp 360 ribu. Tanya: Anda tentu banyak memerlukan uang untuk misalnya pakaian atau pemeliharaan rambut kribo itu. Jawab: Tidak terlalu banyak. Pakaian untuk show misalnya, saya selalu memakai bahan yang murah. Bahkan menjahitnya pun hanya pada sebuah tukang jahit kecil di BlokM Kebayoran. Disainnya saya sendiri yang merencanakan. Saya tidak pemah membeli pakaian ke butik-butik. Terlalu mahai buat saya. Biar bahannya murah, kalau memakainya pantas kan bagus juga. Rambut saya. pun, tidak pernah mendapat pemeliharaan dari salon-salon kecantikan. Saya pelihara sendiri Sejak tujuh tahun saya memilih model kribo ini dan tidak pernah ke tukang cukur Untuk merapihkan - kalau kepanjangan misalnya - saya minta tolong adik atau teman untuk mengguntingnya. Ongkos pemeliharaannya pun tidak mahal. Dicuci setiap tiga atau empat hari sekali dengan shampo untuk rambut normal atau shampo telur. Bahkan bila terpaksa, misalnya dalam tour-tour, saya sering juga pakai shampo bungkus yang harganya 25 perak itu. Dengan membersihkannya secara teratur, rambut saya bebas dari kutu dan ketombe. Serba Lancip Tanya: Kenapa anda memilih model kribo? Dan berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk mempersiapkan rambut model Afro Look itu? Jawab: Waktu itu memang model itu sedang tumbuh. Banyak orang menyangka bahwa pelopornya adalah Jimmy Hendriks. Sebenarnya bukan. Justru Bob Dylan yang bukan Negro yang memulai rambut kribo itu. Bedanya, kalau Jim~my He~ndriks asli Bob Dylan bikinan. Sa~ya terke~na wabah it~u. Mulanya memang terasa kurang enak. Ja~di tidak bebas. Lama-lama, ~yah, buktinya model ini ~~tetap sa~ya pakai ~walaupun Bob Dylan sudah lama tidak kribo lagi. Sekarang saya tak pernah meraSa terga~nggu lagi. Un~tuk mengering~kannya, ses~udah dicuci, cukup dengan sinar matah~ari. Bila kena air mula-~mua ~meman~g jadi lemes. Tapi sete~ngah jam kemudian, ~bila kering akan b~aik se~ndiri seperti ada liftnya. Dan langs~ung membentuk keriting-keriting kecil. k~etika ~masih ~di negeri Belanda, Radio, Radio Hilversum ~yang mewawancarai sa~ya pernah mengukur lingkaran ranbut ~ini. Panja~ng~~nya ter~nyata 75 cmÿFD. Begit~u besar~nya kribo itu hi~ngga muka saya ~yang serba lancip ini ~ menja~di bertambah sempit saja. Sekara~ng garis lingkarann~ya pali~ng-pali~ng cuma 40 sampai 5O sentimeter. Sehi~ngg~a kini agak pantas buka~n? Dan waktu untuk menyisir pun me~nja~di bertambah si~ngkat - sekitar 5 sa~mpai 10 ~me~nit saja. Setiap hari, di rumah ibunya Jalan Perdatam Pasar Minggu, Achmaad hampir selalu bangun siang. Terutama bila ada kegiatan malam harinya: show atau bikin film. la jarang keluyuran sendiri kecuali bila dijemput teman-temannya. Tubuhnya yang agak ramping (tinggi 170 sentimeter, berat 57 kilogram) merupakan daya tarik tersendiri bagi kawan-kawan lawan jenisnya. Kumis dan janggutnya sengaja dibikin tipis. Sebab kalau terlalu tebal, "muka saya jadi terlalu ramai", katanya. Pacar? "Saya tidak punya". Sewaktu di Negeri Belanda, menurut pengakuannya, memang pernah serius dengan seorang gadis Indo. Tapi putus, sebab sang gadis tidak menyukai kehidupannya sebagai pemain musik. Sedang dengan Sandra (penyanyi Story Book Children), hanya teman saja. "Tapi memang pernah dekat", katanya. Memang ada niat kawin pada umur 30 atau 31 ini. Tapi caalonnya belum ada. Sehari-hari ia hanya bergaul dengan kawan-kawan dekatnya saja. Untuk memenuhi kebutuhan biologis dia jarang pergi ke daerah hitam atau stem-bath. "Saya kurang suka pelacur. Saya selalu merasa canggung berhubungan dengan orang yang belum saya kenal. Saya mau berhubungan asal suka sama suka. Misalnya dengan teman-teman atau fans. Cuti Besar. Terlibat dalam pergaulan bebas semacam itu, Achmad Albar tidak sampai kecanduan obat bius semacam ganja atau morfin. "Saya memang pernah mencoba ganja. Ingin tahu saja. Tapi pusing", katanya. "Lagi pula baik ganja ataupun morpin tidak baik buat pemain musik. DiGod-Bless ada seorang yang kecanduan. Maka kalau main, sering-sering kacau. Dia cuma main, tanpa ada usaha untuk misalnya berimprovisasi. Lebih-lebih bila ketika main timbul rasa ketagihannya, permainannya bisa berantakan". Bebas obat biusnya, barang kali juga karena ia dibesarkan dalam lingkungan keluarga muslim. "Tapi pengetahuan agama saya tidak banyak ucapnya. "Dan saya tidak fanatik". Memang dulu, katanya, pernah sembahyang dan menjalankan puasa. Tapi sekarang, "tidak kuat berpuasa karena banyak kesibukan. Sembahyang pun tidak lagi. Sedang cuti besar", katanya berseloroh. Namun kadang-kadang, ada saat-saat di mana Achmad sering merenung sendirian. "Kalau sedang begitu biasanya timbul niat untuk sembahyang lima waktu", katanya (Walaupun jarang-jarang niat itu kesampaian). "Saya percaya kepada Tuhan, Karena itu sayapun percaya adanya setan yang selalu menggoda. Dan saya adalah manusia dengan segala kelemahannya", ujar Achmad Albar lagi. Sampai kini lagu-lagu ciptaannya memang belum banyak. Beberapa lagu larat dan sedikit lagu-lagu Indonesia seperti Setan Tertawa (untuk film Laila Majnum). Rumah Di Atas Bukit, yang dibawakan dalam beat rock. Tempo hari ia pernah bilang bahwa lagu dalam bahasa Indonesia kurang pantas dibawakan dalam irama rock. Namun kini "saya akan mencoba memeloporinya katanya. Soalnya memang belum biasa. Bahkan musik rock yang dimainkan grup-grup di luar negeri pun jarang mendapat tempat di televisi maupun radio-radio. Penggemar jenis musik ini hanya bisa menikmatinya lewat show-show atau kaset-kaset yang banyak dijual "Itulah sebabnya ada jurang antara musik rock dan masyarakat", katanya. Grup manakah yang paling disukai Achmad? Katanya, masing-masing punya kelebihan. Misalnya grup Genesis unggul dalam aransemen. Emerson Lake and Palmer (ELP) punya kelebihan dalam melodi, sementara Deep Purple (yang paling disukainya) menonjol bila membawakan lagu-lagu beat rok. Namun ciptaan grup-grup itu oleh God Bless tidak selalu dibawakan begitu saja. "Biasanya selalu saya aransir kembali". ujar Amlad. Tentu saja hasilnya tidak selalu baik. Namun paling sedikit, sudah ada usaha untuk tidak menjiplak mentah-mentah. Kapan berhenti main? Nampaknya Achmad belum berniat untuk itu. Bahkan menjadi penyanyi tunggal pun, belum terfikirkan. "Tapi kalau God Bless tidak bisa dipertahankan lagi, mungkin saya akan judi penyanyi biasa saja", katanya. "Sebab musik adalah hidup saya .... ". | Saya masih 20 achmad lagi Farida menceritakan kehidupan perkawinannya, anak- anaknya, keinginannya untuk menjadi bintang film dan kebaikan achmad albar yang penurut. (ms) | COBA kalau sewaktu di negeri Belanda dia mau bertahan 5 tahun saja di Sekolah Musik itu, paling sedikit bisa menjadi guru musik. Tapi sekolah itu cuma dijalaninya beberapa bulan saja. Ayahnya memang ingin agar Achmad Albar menjadi penyanyi. Tapi saya lebih setuju kalau dia bisa bertitel drs dulu baru terjun ke bidang musik atau apa saja. Dia keras, tapi penurut. Tidak pernah marah dan tidak pernah membantah. Sekali waktu ketika saya di Roma, dia yang sudah berambut kribo itu datang dari Negeri Belanda. Ratmbutnya saya suruh bikin biasa lagi di salon. Dia hanya menurut saja. Tapi malamnya menangis di kamar sendirian. Akhirna saya tahu bahwa itu mode. Dan rambutnya kemudian dikribo lagi. Perubahan keadaan keluarga yang dulu berada dan kini sederhana, juga tidak membuat hatinya sedih. Dia bahkan lebih banyak memperhatikan kepentingan adik-adiknya dibanding kepentingan dirinya sendiri. Saya malah banyak belajar dari dia, ujar Farida Alhasni. "Kalau saya punya anak kayak Achmad, 20 lagi, 30 lagi, saya masih mau". Tentu saja Farida tidak sepenuhnya suka dengan musik rock yang sering dimainkan anaknya. "Saya lebih suka kalau dia menyanyikan lagu yang sentimentil", katanya. Sudah Cape Ibu Achmad Albar ini ketika menikah dengan Syech Albar, baru 14 tahun. Syech Albar waktu itu sudah punya isteri dan dua orang anak. "Begitu melek dan ngerti laki-laki, saya mendapatkan suami dengan dua orang anak", katanya. Dari perkawinan itulah lahir Achmad dan kakaknya, Sadia Albar (yang sekitar tahun 65, pernah menjadi penari tari perut di klab malam Nirwana, Hl). Syech Albar, pemain gambus itu, kemudian meninggal akibat tbc kronis. Farida yang kemudian kawin dengan Ibrahim Alkaff (orang Singapur) hanya sebentar dan berakhir dengan perceraian menghasilkan Fitria. Sidi Tando yang menjadi suami Farida ke tiga menghasilkan seorang anak pula, Duma Tando. Dengan pengusaha terkenal ini juga, perkawinannya berakhir dengan perceraian. Kemudian kawin lagi dengan Haji Djamaludin Malik (juga berakhir dengan perceraian) dan menghasilkan dua orang anak: Camelia Malik dan Mahdi Malik. Setelah itu lama menjanda. Setahun lalu ketika baru 40 hari meninggalnya Fuad (menantunya, suami Fitria, pemain drum God Bless) Farida mendapatkan suami lagi, juga bernama Fuad, 36 tahun. Sampai kini belum bercerai lagi. "Mudah-mudahan bisa bertahan lama. Saya memang sudah cape". Dalam usia yang menurut pengakuannya baru 47 itu, Farida nampak masih lebih cantik dari potretnya sendiri yang tergantung di ruang tamu hasil lukisan Basuki Abdulah. Rumah bercat putih dan tidak besar itu hanya diperlengkapi dengan perabotan rumah tangga yang sederhana. Beberapa barang keramik tersusun rapi di atas rak besi yang tinggi. Beberapa potret keluarga, juga tergantung di ruang tengah. Rumah ini bukan milik sendiri, dikontrak selama dua tahun. Dulu, katanya, pernah punya dua buah rumah di daerah Menteng. Tapi terpaksa dijual ketika Farida dan anak-anaknya berniat tinggal di Roma, Italia. Hanya delapan bulan di sana, mereka kemudian balik kembali ke Jakarta. Achmad Albar waktu itu masih di Negeri Belanda, sementara Saadia Albar sudah bersuamikan seorang dokter gigi berkebangsaan Jerman, dan tinggal di sana. Tentang pendidikan terhadap anak-anaknya, Farida bercerita: "Saya dulu. dididik dengan cara kuno. Karena itu kepada anak-anak saya memberikan kebebasan. Mereka saya lepas, asal tidak jadi penjahat saja. Saya lebih suka kalau mereka lacaran di rumah. Saya memang sengaja memberikan tempat yang romantis untuk itu. Dari- pada mereka keluyuran di luar rumah, saya tidak bisa mengawasi. Saya sendiri tak pernah sembunyi-sembunyi bila harus pergi dengan seorang kawan pria ke klab malam. Saya akui, pendidikan agama terhadap anak-anak memang kurang matang. Tapi bagi saya yang penting adalah pendidikan akhlak buat mereka. Dari pada gembar-gembor mesti sembahyang, mesti ini-itu tapi akhlaknya bejat, bagaimana?" Menghargai Cinta Namun dengan cara pendidikan semacam itu, Farida tidak sepi dari perisiwa-peristiwa keluarga yang menyedihkan. Misalnya ketika Fitria dan Camelia Malik terlibat dalam cinta segi tiga dengan Fuad. Fuad yang kemudian kawin dengan Camelia, terpaksa menceraikan isterinya, Fitria, kakak Camelia. (Karena urusan inilah Achmad Albar yang sedang sukses bersama grupnya. lover Leaf di Negeri Belanda harus kembali ke Jakarta). "Camelia anak saya yang disakiti. Fitria, juga anak saya", ucap Farida. "Dan say kira tak ada seorang pun yang tega melihat peristiwa itu. Tapi saya tetap menghargai cinta". Tapi kenapa ia suka kawin-cerai-kawin-cerai? Beberapa perkawinannya memang dianggapnya gagal. Untuk mengejar cinta, bahkan katanya, dia pernah hidup bersama seseorang dengan tujuan untuk akhirnya kawin. Tapi gagal juga. "Cinta memang aneh", katanya. "Kita kadang-kadang mendapatkan cinta dari orang yang cakep, tapi bisa juga dari orang yang jelek". Sedang jalan untuk mendapatkan cinta pun, katanya, macam-macam. Farida bercerita bagaimana dia akhirnya jadi nyonya Djamaludin Malik. "Sudah sejak Lama saja kepingin main film. Saya ingin seperti Netty Herawati, yang selain mendapatkan uang, juga mendapatkan perumahan. Usmar Ismail akhirnya memberikan peran dalam film Lewat Jam Malam. Saya sudah lama latihan untuk peran utamanya, ketika tiba-tiba Usmar Ismail memberitahu bahwa saya dilarang main. Rupanya Djamaludin Malik yang sering datang menyaksikan latihan-latihan itu (juga pemilik modal terbesar dalam pembuatan film itu) telah minta kepada Usmar agar peran itu digantikan, akhirnya, Dahlia yang menggantikan saya. Lalu saya malah dikontrak oleh Persari (kepunyaan Djamaludin Malik) bahkan dengan rumah tinggal seperti istana. Selama kontrak itu saya tak pernah main film, tapi malah jadi main-main sungguhan dengan Djamaludin Malik. Setelah berpisah dengan Djamaludin Malik, saya sempat juga main dalam Malam Tak Berembun. Tapi film itu tak sempat beredar". Liku-liku hidupnya yang tidak biasa itu membuat Farida -- yang dulunya bernama Fadlun --sadar, "hidup saya waktu muda tidak happy". Karena itu, "saya merasa berdosa misalnya kepada Achmad Albar, kenapa tidak memperhatikan dan menyalurkan bakat musiknya waktu kecil". Padahal waktu itu, keadaannya masih sempurna. Piano pun ada. "Bagi yang masih kuno kebebasan saya mungkin kelewatan. Tetapi bagi orang yang lebih bebas, sikap saya barangkali belum apa-apa. Saya hidup menuruti hati nurani saya sendiri", katanya. Rock, baru sekedar mode Musik rock pernah berpengaruh di indonesia, tapi tak berkembang karena baru sekedar mode. dengan tampilnya god bless, perkembangan musik pop pribumi memberikan arti penting. (ms) | MUSIK rock memang lahir lebih belakangan dari jazz atau musik rakyat. Paling sedikit musik yang berkembang pada tahun 1950-an itu merupakan hasil campuran antara blues dan musik rakyat. Bill Haley and The Comets Band, berhasil membikin tonggak dalam sejarah musik rock dengan lagunya yang populer Rock Around The Clock. Kemudian penyanyi Elvis Presley dengan Heartbreak Hotel mengguyur negeri-negeri seluruh dunia dengan musik rock. Namun walaupun periode ini sangat terasa pengaruhnya di Indonesia, toh belum ada satu grup pun yang berhasil mengangkat jenis musik itu secara berhasil. Sebagaimana musik-musik lama itu sekarang bermunculan kembali, rock yang sempat menghilang setelah zamannya Elvis Presley kembali lagi dalam bentuk lebih baru. Rock gaya baru ini, lebih kaya dan lebih menuntut instrumen musik listrik mutakhir. Jenis inilah yang berpengaruh besar di lndonesia lewat grup-grup Emerson Lake Palmer, Deep Purple, The Who. Pada tahun 1970, Rollies dari Bandung memperkenalkan musik keras (hardrock). Lalu tumbuhlah grup-grup semacam di beberapa kota besar: Bandung, Jakarta, Surabaya. Tentu tidak seperti grup-grup luar negeri yang banyak bertahan lama, grup-grup pribumi seperti AKA, Rollies, hampir cuma ikut-ikutan saja. "Perkembangan musik rock di sini dengan publiknya yang masih terbatas - sementara ini cuma baru sekedar mode saja", ucap Mus Mualim . Memang. Sebab Rollies, meskipun punya potensi yang luar biasa, akhirnya mati sendiri. AKA dari Surabaya. yang benar-benar jantan jika memainkan jenis musik itu mendadak loyo di pabrik rekaman. Seperti kambing kehujanan. Beberapa grup lagi mencoba tumbuh, bahkan sering saling bertemu, mislnya pada pesta-pesta musik terbuka. Tapi tak satu pun yang nampaknya ingin nencoba bertahan secara utuh. Gejala itu pada dasarnya bisa dibenarkan juga. Sebab bagaimana bisa hidup, bila musik itu tidak mendatangkan uang? Sehingga pada umumnya, akhirnya bersikap seperti AKA, kompromi dengan musik-musik pop komersil. Kalau perlu apa kata cukong mainkan saja. Dari kenyataan seperti itu, maka tampilnya God Bless cukup memberikan arti yang penting dalam perkembangan musik pop pribumi. Sebab grup ini di samping tetap bertahan dengan musik rocknya, hasil permainannya pun tidak mengecewakan. Komentar Mus: "Lagu-lagu yang dibawakan diaransirnya kembali dengan baik. Tidak asal main. Maka ciri God Bless pun tetap menonjol, walaupun lagu itu misalnya milik Emerson Lake Palmer atau pun Deep Purple..."
| |