Agam's posts with tag: achmad albar

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
Blog EntryAchmad Albar-Tempo 27 September 1975Dec 1, '07 2:28 PM
for everyone
Penasaran dengan profil Achmad Albar dan God Bless, saya buka arsip majalah Tempo dan menemukan edisi Tempo yang Fokus Utamanya adalah Achmad Albar, bahkan menjadi sampul.

waktu Tempo ini diterbitkan, saya berumur kurang dari satu tahun.


Edisi. 30/V/27 September - 03 Oktober 1975

 

 

Fokus Kita

 

Achmad albar

God bless yang lahir belum 3 tahun yang lalu tetap bertahan pada musik rock yang belum banyak penggemarnya. pada god bless musik tampak sebagai panggilan hidup bukan sebagai jenjang kekayaan. (fk)

HAMPIR bisa dipastikan, Koes Plus kini tidak lagi menjadi raja
musik pop. Beberapa kelompok yang lahir belakangan seperti The
Lloyd, Mercy's atau Bimbo misalnya, makin lama malah makin
tambah penggemarnya. Diketahui, yang berhasil mematok diri
secara kukuh sampai sekarang ini baru Bimbo. Grup asal Bandung
itu, walaupun terlibat kompromi dengan kebijaksanaan cukong
(rekaman dangdutnya misalnya terasa dipaksakan) masih sempat
menelurkan hasil-hasil bagus dan menelurkan warna musik tertentu
(boleh dilihat pula lagu-lagu kasidahnya yang paling baru). Akan
halnya Koes Plus, The Lloyd, Panbers, Favourite's, Mercy's
maupun AKA, walaupun yang terakhir ini sukses dengan musik rock,
akhirnya toh tampak sebagai grup pencari uang yan biasa, yang
memang tak usah disalahkan sebagai orang dagang.

Tapi dalam hal itulah God Bless lantas kelihatan. Lahir belum
tiga tahun yang lalu, grup ini masih kukuh dengan pendiriannya
untuk tidak tunduk pada selera umum sepetti diwakili oleh
pengusaha rekaman. Tetap bertahan pada musik rock yang diketahui
tidak atau belum banyak penggemarnya, mungkin Ahmad Albar dan
kawan-kawan sebenarnya bisa saja mencoba-coba merekam
jenis-jenis lain (pop melayu, pop mandarin, pop daerah, pop
barat) yang kadang dikatakan sedang merupakan tambang emas.
Namun, sambil mengingat bahwa belum tentu percobaan mereka akan
menelurkan mutu, secara tidak berlebihan bisa dikatakan bahwa
pada God Bless kelihatan arti lapangan kerja--musik--tidak
semata-mata sebagai jenjang kekayaan--walaupun dibanding
grup-grup lainnya, mereka ini sekarang tidak bisa dikatakan
kaya. Pada God Bless ini musik tampak sebagai "panggilan hidup",
istilah yang biasanya muncul di kalangan seniman dan idealis
lainnya, baik kecap maupun tidak.

Memang mungkin juga 'fanatisme' pada rock -- entah sampai kapan
disebabkan oleh cara hidup dan lingkungan yang mengantarkan
Ahmad ke jenjang karier. Dan karena itulah kami fikir tak ada
salahnya untuk mengetengahkan secara apa adanya tokoh muda ini
dari segi pribadi. Siapa tahu pula barangkali cara ini lebih
tepat dibanding pembicaraan serius dan mendalam terhadap
prestasi grup yang belum punya rekaman itu. Untuk itu Yusril
Jalinus, yang menulis laporan ini dengan bantuan Eddy Hewanto,
pulang-balik mevawancarai keluarga yang di dalam musik
sebenarnya merupakan "keturunan gambus".
Nah, mudah-mudahan
cukup ringan. Selamat berpuasa pembaca.

 

 

Bapaknya gambus, anaknya rock

Ayah achmad, syech albar adalah tokoh gambus yang populer, sedang achmad sendiri menyukai musik rock walaupun musik rock kurang komersil. ia ingin mempelopori musik rock dalam bahasa indonesia. (ms)

DI atas pentas, tubuhnya yang nampak tipis sering dibalut
pakaian yang agak aneh. Kadang-kadang hanya memakai singlet atau
rompi, sepatu bot se tinggi lutut, atau semacam mantel hitam
seperti punya Zorro. Mik yang dipegang pada gagangnya sering
diangkat-angkat, dihunjam-hunjamkan. Kalang-kadang diputar-putar
di atas kepalanya, seperti atlit pelempar martil. Namun sambutan
penonton pada setiap pertunjukan God Bless yang selalu melimpah
itu tidak melulu karena dandanan atau ulah Achmad Albar semacam
itu. Tampil pertama kali di TIM bulan Mei 1973, bukan saja mampu
menyisihkan The Young Cypsi dan One Dee And LadJ Faces--dua
grup yang mendampinginya malam itu tapi sekaligus juga berhasil
membaptiskan diri sebagai grup pop yang unggul membawakan musik
rock.

Suksesnya yang pertama disusul dengan sambutan meriah pada
setiap penampilan berikutnya. Di Teater Terbuka TIM, di pesta
terbuka Summer 28 Ragunan. Bahkan dalam pesta terbuka Kemarau 75
di lapangan Gedung Sate Bandung akhir Agustus kemarin, God Bless
sekali lagi membuktikan dirinya sebagai grup yang paling
berhasil dibanding ke-11 peserta lainnya. Di hadapan penonton
yang ngamuk Achmad Albar yang muncul hampir pada buntut acara,
berhasil menghentikan hujan sandal dan batu. Ratusan ribu remaja
itu bahkan berteriak "terus....lagi....lagi....".

Tanya: Anda selalu memainkan musik rock. Padahal anda lahir dari
keluarga pemain gambus. Ayah anda, Syech Albar, adalah tokoh
gambus yang pernah populer. Kenapa anda tidak bermain gambus
pula?

Jawab: Ketika ayah meninggal saya belum tiga tahun. Saya tidak
mengenal almarhum secara langsung. Lagi pula sejak itu musik
gambus jarang diputar lagi di rumah. Sehingga hampir tak ada
pengaruhnya pada jiwa saya. Tapi saya bangga, ayah saya orang
yang terkenal. Dan sekarang saya ingin juga sepopuler dia.

T: Anda tahu bahwa musik rock belum banyak peminatnya kecuali
kaum remaja. Itu pun jumlahnya terbatas. Kenapa anda ingin
bertahan dengan musik jenis itu? Kenapa misalnya tidak nerekam
lagu-lagu dangdut yang komersil, seperti yang kebanyakan
dilakukan oleh grup-grup lain?

J: Saya tahu musik rock kurang komersil. Tapi bagi Saya main
musik bukan untuk cari uang melulu. Kalau tujuannya begitu dari
dulu lebih baik merekam lagu-lagu dangdut saja misalnya. Untuk
mempertahankan hidup saya bisa cari uang di bidang lain. Saya
memainkan musik yang saya sukai musik rock. Dan saya selalu
mencari sesuatu yang baru. Kalau misalnya nanti lahir musik baru
dan saya merasa cocok, saya akan ambil dan musik rock saja
tinggalkan.

Shampo Bungkus

Lahir di Surabaya, 16 Juli 1946, Achmad Albar adalah anak
keempat Syech Albar anak kedua Farida AlHasni. Tinggal di
Bandung selama tujuh tahun, keluarganya kemudian menetap di
Jakarta hingga sekarang. "Saya tak pernah ingin jadi dokter atau
insinyur. Cita-cita saya kepengin jadi bintang film yang baik
dan penyanyi yang baik", ucap Achmad. Dan keinginannya kemudian
terkabul lewat film Jenderal Kancil ketika ia berumur 12 tahum
Honornya sebanyak Rp 1.600 diserahkan kepada ibunya. "Saya masih
ingat, saya cuma minta dibelikan jam tangan".

Filmnya yang kedua Kapten Kecil tidak sempat rampung. Sebab
sutradaranya, seorang India, keburu pulang ke negerinya. Setelah
itu kesempatan di bidang film hampir tak pernah diperolehnya
lagi. Ia lebih banyak memberikan perhatian pada musik. Sempat
juga bergabung dengan band Quarta Nada bersama Salanti
Bersaudara (Titik Qadarsih). Namun ketika ada larangan memainkan
musik-musik semacam rock dan Beatles serta rambut gondrong,
Achmad Albar merasa tertekan. Tanpa tujuan jelas, selepas SMA
tahun 1965, dengan ongkos ibunya dia pergi ke Negeri Belanda
sendirian. "Saya ingin mencari kebebasan di sana", katanya.

Hampir delapan tahun di Negeri Belanda (tinggal bersama keluarga
pamannya) Achmad tidak sempat mencicipi pendidikan musik yang
memadai. Di sebuah sekolah musik--dia mengambil jurusan gitar
klasik--hanya dijalaninya selama tiga bulan. "Karena itu saya
cuma sedikit-sedikit saja bisa membaca not balok", katanya.
Meski begitu ia toh berhasil mengorbitkan Clover Leaf, grup pop
yang didirikan bersama kawan-kawannya, dalam deretan band-band
dunia yang lagu-launya banyak digemari orang. Bahkan beberapa
di antaranya seperti Time Will Show dan Don't Spoil My Day
sempat nangkring di puncak tangga lagu-lagu.

Dengan modal pengalaman itu Achmad yang kembali lagi ke Jakarta
awal 1973 yang lalu dan membentuk God Bless. Tapi Jakarta bukan
Belanda. Dengan cuma show-show, apa lagi menampilkan musik rock,
Achmad tentu tidak bisa mengeruk duit banyak. Sementara ibunya
yang kini tidak punya rumah sendiri (tinggal di rumah kontrakan)
perlu mendapatkan bantuan. Dengan show saja, sekali main, God
Bless saat ini cuma dibayar rata-rata Rp 750 ribu. Jumlah ini
harus dipotong 40 persen oleh manejernya yang memiliki instrumen
dan perlengkapan sistim suara. Sisanya tentu saja masih harus
dibagi di antara anggota grup yang jumlahnya sekitar lima orang.
Untuk tambahan penghasilannya, Achmad kini aktif lagi di bidang
film. Bahkan menjadi foto model untuk sebuah merek jeans, dengan
kontrak dua tahun dengan bayaran Rp 360 ribu.

Tanya: Anda tentu banyak memerlukan uang untuk misalnya
pakaian atau pemeliharaan rambut kribo itu.

Jawab: Tidak terlalu banyak. Pakaian untuk show misalnya, saya
selalu memakai bahan yang murah. Bahkan menjahitnya pun hanya
pada sebuah tukang jahit kecil di BlokM Kebayoran. Disainnya
saya sendiri yang merencanakan. Saya tidak pemah membeli pakaian
ke butik-butik. Terlalu mahai buat saya. Biar bahannya murah,
kalau memakainya pantas kan bagus juga. Rambut saya. pun, tidak
pernah mendapat pemeliharaan dari salon-salon kecantikan. Saya
pelihara sendiri Sejak tujuh tahun saya memilih model kribo ini
dan tidak pernah ke tukang cukur Untuk merapihkan - kalau
kepanjangan misalnya - saya minta tolong adik atau teman untuk
mengguntingnya. Ongkos pemeliharaannya pun tidak mahal. Dicuci
setiap tiga atau empat hari sekali dengan shampo untuk rambut
normal atau shampo telur. Bahkan bila terpaksa, misalnya dalam
tour-tour, saya sering juga pakai shampo bungkus yang harganya
25 perak itu. Dengan membersihkannya secara teratur, rambut saya
bebas dari kutu dan ketombe.

Serba Lancip

Tanya: Kenapa anda memilih model kribo? Dan berapa lama waktu
yang dibutuhkan untuk mempersiapkan rambut model Afro Look itu?

Jawab: Waktu itu memang model itu sedang tumbuh. Banyak orang
menyangka bahwa pelopornya adalah Jimmy Hendriks. Sebenarnya
bukan. Justru Bob Dylan yang bukan Negro yang memulai rambut
kribo itu. Bedanya, kalau Jim~my He~ndriks asli Bob Dylan bikinan.
Sa~ya terke~na wabah it~u. Mulanya memang terasa kurang enak. Ja~di
tidak bebas. Lama-lama, ~yah, buktinya model ini ~~tetap sa~ya
pakai ~walaupun Bob Dylan sudah lama tidak kribo lagi. Sekarang
saya tak pernah meraSa terga~nggu lagi. Un~tuk mengering~kannya,
ses~udah dicuci, cukup dengan sinar matah~ari. Bila kena air
mula-~mua ~meman~g jadi lemes. Tapi sete~ngah jam kemudian, ~bila
kering akan b~aik se~ndiri seperti ada liftnya. Dan langs~ung
membentuk keriting-keriting kecil. k~etika ~masih ~di negeri
Belanda, Radio, Radio Hilversum ~yang mewawancarai sa~ya pernah
mengukur lingkaran ranbut ~ini. Panja~ng~~nya ter~nyata 75 cmÿFD.
Begit~u besar~nya kribo itu hi~ngga muka saya ~yang serba lancip ini ~
menja~di bertambah sempit saja. Sekara~ng garis lingkarann~ya
pali~ng-pali~ng cuma 40 sampai 5O sentimeter. Sehi~ngg~a kini agak
pantas buka~n? Dan waktu untuk menyisir pun me~nja~di bertambah
si~ngkat - sekitar 5 sa~mpai 10 ~me~nit saja.

Setiap hari, di rumah ibunya Jalan Perdatam Pasar Minggu,
Achmaad hampir selalu bangun siang. Terutama bila ada
kegiatan malam harinya: show atau bikin film. la jarang
keluyuran sendiri kecuali bila dijemput teman-temannya. Tubuhnya
yang agak ramping (tinggi 170 sentimeter, berat 57 kilogram)
merupakan daya tarik tersendiri bagi kawan-kawan lawan jenisnya.
Kumis dan janggutnya sengaja dibikin tipis. Sebab kalau terlalu
tebal, "muka saya jadi terlalu ramai", katanya. Pacar? "Saya
tidak punya". Sewaktu di Negeri Belanda, menurut pengakuannya,
memang pernah serius dengan seorang gadis Indo. Tapi putus,
sebab sang gadis tidak menyukai kehidupannya sebagai pemain
musik. Sedang dengan Sandra (penyanyi Story Book Children),
hanya teman saja. "Tapi memang pernah dekat", katanya. Memang
ada niat kawin pada umur 30 atau 31 ini. Tapi caalonnya belum
ada. Sehari-hari ia hanya bergaul dengan kawan-kawan dekatnya
saja. Untuk memenuhi kebutuhan biologis dia jarang pergi ke
daerah hitam atau stem-bath. "Saya kurang suka pelacur. Saya
selalu merasa canggung berhubungan dengan orang yang belum saya
kenal. Saya mau berhubungan asal suka sama suka. Misalnya dengan
teman-teman atau fans.

Cuti Besar.

Terlibat dalam pergaulan bebas semacam itu, Achmad Albar tidak
sampai kecanduan obat bius semacam ganja atau morfin. "Saya
memang pernah mencoba ganja. Ingin tahu saja. Tapi pusing",
katanya. "Lagi pula baik ganja ataupun morpin tidak baik buat
pemain musik. DiGod-Bless ada seorang yang kecanduan. Maka kalau
main, sering-sering kacau. Dia cuma main, tanpa ada usaha untuk
misalnya berimprovisasi. Lebih-lebih bila ketika main timbul
rasa ketagihannya, permainannya bisa berantakan". Bebas obat
biusnya, barang kali juga karena ia dibesarkan dalam lingkungan
keluarga muslim. "Tapi pengetahuan agama saya tidak banyak
ucapnya. "Dan saya tidak fanatik".

Memang dulu, katanya, pernah sembahyang dan menjalankan puasa.
Tapi sekarang, "tidak kuat berpuasa karena banyak kesibukan.
Sembahyang pun tidak lagi. Sedang cuti besar", katanya
berseloroh. Namun kadang-kadang, ada saat-saat di mana Achmad
sering merenung sendirian. "Kalau sedang begitu biasanya timbul
niat untuk sembahyang lima waktu", katanya (Walaupun
jarang-jarang niat itu kesampaian). "Saya percaya kepada Tuhan,
Karena itu sayapun percaya adanya setan yang selalu menggoda.
Dan saya adalah manusia dengan segala kelemahannya", ujar Achmad
Albar lagi.

Sampai kini lagu-lagu ciptaannya memang belum banyak. Beberapa
lagu larat dan sedikit lagu-lagu Indonesia seperti Setan
Tertawa (untuk film Laila Majnum). Rumah Di Atas Bukit, yang
dibawakan dalam beat rock. Tempo hari ia pernah bilang bahwa
lagu dalam bahasa Indonesia kurang pantas dibawakan dalam irama
rock. Namun kini "saya akan mencoba memeloporinya katanya.
Soalnya memang belum biasa. Bahkan musik rock yang dimainkan
grup-grup di luar negeri pun jarang mendapat tempat di televisi
maupun radio-radio. Penggemar jenis musik ini hanya bisa
menikmatinya lewat show-show atau kaset-kaset yang banyak
dijual "Itulah sebabnya ada jurang antara musik rock dan
masyarakat", katanya.

Grup manakah yang paling disukai Achmad? Katanya, masing-masing
punya kelebihan. Misalnya grup Genesis unggul dalam aransemen.
Emerson Lake and Palmer (ELP) punya kelebihan dalam
melodi, sementara Deep Purple (yang paling disukainya) menonjol
bila membawakan lagu-lagu beat rok. Namun ciptaan grup-grup itu
oleh God Bless tidak selalu dibawakan begitu saja. "Biasanya
selalu saya aransir kembali". ujar Amlad. Tentu saja hasilnya
tidak selalu baik. Namun paling sedikit, sudah ada usaha untuk
tidak menjiplak mentah-mentah. Kapan berhenti main? Nampaknya
Achmad belum berniat untuk itu. Bahkan menjadi penyanyi tunggal
pun, belum terfikirkan. "Tapi kalau God Bless tidak bisa
dipertahankan lagi, mungkin saya akan judi penyanyi biasa saja",
katanya.
"Sebab musik adalah hidup saya .... ".

 

 

Saya masih 20 achmad lagi

Farida menceritakan kehidupan perkawinannya, anak- anaknya, keinginannya untuk menjadi bintang film dan kebaikan achmad albar yang penurut. (ms)

COBA kalau sewaktu di negeri Belanda dia mau bertahan 5
tahun saja di Sekolah Musik itu, paling sedikit bisa menjadi
guru musik. Tapi sekolah itu cuma dijalaninya beberapa bulan
saja. Ayahnya memang ingin agar Achmad Albar menjadi penyanyi.
Tapi saya lebih setuju kalau dia bisa bertitel drs dulu baru
terjun ke bidang musik atau apa saja. Dia keras, tapi penurut.
Tidak pernah marah dan tidak pernah membantah. Sekali waktu
ketika saya di Roma, dia yang sudah berambut kribo itu datang
dari Negeri Belanda. Ratmbutnya saya suruh bikin biasa lagi di
salon. Dia hanya menurut saja. Tapi malamnya menangis di kamar
sendirian. Akhirna saya tahu bahwa itu mode. Dan rambutnya
kemudian dikribo lagi. Perubahan keadaan keluarga yang dulu
berada dan kini sederhana, juga tidak membuat hatinya sedih. Dia
bahkan lebih banyak memperhatikan kepentingan adik-adiknya
dibanding kepentingan dirinya sendiri. Saya malah banyak belajar
dari dia, ujar Farida Alhasni. "Kalau saya punya anak kayak Achmad,
20 lagi, 30 lagi, saya masih mau". Tentu saja Farida tidak
sepenuhnya suka dengan musik rock yang sering dimainkan anaknya.
"Saya lebih suka kalau dia menyanyikan lagu yang sentimentil",
katanya.

Sudah Cape

Ibu Achmad Albar ini ketika menikah dengan Syech Albar, baru 14
tahun. Syech Albar waktu itu sudah punya isteri dan dua orang
anak. "Begitu melek dan ngerti laki-laki, saya mendapatkan
suami dengan dua orang anak", katanya. Dari perkawinan itulah
lahir Achmad dan kakaknya, Sadia Albar (yang sekitar tahun 65,
pernah menjadi penari tari perut di klab malam Nirwana, Hl).
Syech Albar, pemain gambus itu, kemudian meninggal akibat tbc
kronis. Farida yang kemudian kawin dengan Ibrahim Alkaff (orang
Singapur) hanya sebentar dan berakhir dengan perceraian
menghasilkan Fitria. Sidi Tando yang menjadi suami Farida ke
tiga menghasilkan seorang anak pula, Duma Tando. Dengan
pengusaha terkenal ini juga, perkawinannya berakhir dengan
perceraian. Kemudian kawin lagi dengan Haji Djamaludin Malik
(juga berakhir dengan perceraian) dan menghasilkan dua orang
anak: Camelia Malik dan Mahdi Malik. Setelah itu lama menjanda.
Setahun lalu ketika baru 40 hari meninggalnya Fuad (menantunya,
suami Fitria, pemain drum God Bless) Farida mendapatkan suami
lagi, juga bernama Fuad, 36 tahun. Sampai kini belum bercerai
lagi. "Mudah-mudahan bisa bertahan lama. Saya memang sudah cape".

Dalam usia yang menurut pengakuannya baru 47 itu, Farida nampak
masih lebih cantik dari potretnya sendiri yang tergantung di
ruang tamu hasil lukisan Basuki Abdulah. Rumah bercat putih dan
tidak besar itu hanya diperlengkapi dengan perabotan rumah
tangga yang sederhana. Beberapa barang keramik tersusun rapi di
atas rak besi yang tinggi. Beberapa potret keluarga, juga
tergantung di ruang tengah. Rumah ini bukan milik sendiri,
dikontrak selama dua tahun. Dulu, katanya, pernah punya dua
buah rumah di daerah Menteng. Tapi terpaksa dijual ketika Farida
dan anak-anaknya berniat tinggal di Roma, Italia. Hanya delapan
bulan di sana, mereka kemudian balik kembali ke Jakarta. Achmad
Albar waktu itu masih di Negeri Belanda, sementara Saadia Albar
sudah bersuamikan seorang dokter gigi berkebangsaan Jerman, dan
tinggal di sana.

Tentang pendidikan terhadap anak-anaknya, Farida bercerita:
"Saya dulu. dididik dengan cara kuno. Karena itu kepada
anak-anak saya memberikan kebebasan. Mereka saya lepas, asal
tidak jadi penjahat saja. Saya lebih suka kalau mereka lacaran
di rumah. Saya memang sengaja memberikan tempat yang romantis
untuk itu. Dari- pada mereka keluyuran di luar rumah, saya tidak
bisa mengawasi. Saya sendiri tak pernah sembunyi-sembunyi bila
harus pergi dengan seorang kawan pria ke klab malam. Saya akui,
pendidikan agama terhadap anak-anak memang kurang matang. Tapi
bagi saya yang penting adalah pendidikan akhlak buat mereka.
Dari pada gembar-gembor mesti sembahyang, mesti ini-itu tapi
akhlaknya bejat, bagaimana?"

Menghargai Cinta

Namun dengan cara pendidikan semacam itu, Farida tidak sepi dari
perisiwa-peristiwa keluarga yang menyedihkan. Misalnya ketika
Fitria dan Camelia Malik terlibat dalam cinta segi tiga dengan
Fuad. Fuad yang kemudian kawin dengan Camelia, terpaksa
menceraikan isterinya, Fitria, kakak Camelia. (Karena urusan
inilah Achmad Albar yang sedang sukses bersama grupnya. lover
Leaf di Negeri Belanda harus kembali ke Jakarta). "Camelia anak
saya yang disakiti. Fitria, juga anak saya", ucap Farida. "Dan
say kira tak ada seorang pun yang tega melihat peristiwa itu.
Tapi saya tetap menghargai cinta".

Tapi kenapa ia suka kawin-cerai-kawin-cerai? Beberapa
perkawinannya memang dianggapnya gagal. Untuk mengejar cinta,
bahkan katanya, dia pernah hidup bersama seseorang dengan tujuan
untuk akhirnya kawin. Tapi gagal juga. "Cinta memang aneh",
katanya. "Kita kadang-kadang mendapatkan cinta dari orang yang
cakep, tapi bisa juga dari orang yang jelek". Sedang jalan untuk
mendapatkan cinta pun, katanya, macam-macam. Farida bercerita
bagaimana dia akhirnya jadi nyonya Djamaludin Malik. "Sudah
sejak Lama saja kepingin main film. Saya ingin seperti Netty
Herawati, yang selain mendapatkan uang, juga mendapatkan
perumahan. Usmar Ismail akhirnya memberikan peran dalam film
Lewat Jam Malam. Saya sudah lama latihan untuk peran utamanya,
ketika tiba-tiba Usmar Ismail memberitahu bahwa saya dilarang
main. Rupanya Djamaludin Malik yang sering datang menyaksikan
latihan-latihan itu (juga pemilik modal terbesar dalam
pembuatan film itu) telah minta kepada Usmar agar peran itu
digantikan, akhirnya, Dahlia yang menggantikan saya. Lalu saya
malah dikontrak oleh Persari (kepunyaan Djamaludin Malik) bahkan
dengan rumah tinggal seperti istana. Selama kontrak itu saya tak
pernah main film, tapi malah jadi main-main sungguhan dengan
Djamaludin Malik. Setelah berpisah dengan Djamaludin Malik, saya
sempat juga main dalam Malam Tak Berembun. Tapi film itu tak
sempat beredar".

Liku-liku hidupnya yang tidak biasa itu membuat Farida -- yang
dulunya bernama Fadlun --sadar, "hidup saya waktu muda tidak
happy". Karena itu, "saya merasa berdosa misalnya kepada Achmad
Albar, kenapa tidak memperhatikan dan menyalurkan bakat musiknya
waktu kecil". Padahal waktu itu, keadaannya masih sempurna.
Piano pun ada. "Bagi yang masih kuno kebebasan saya mungkin
kelewatan. Tetapi bagi orang yang lebih bebas, sikap saya
barangkali belum apa-apa. Saya hidup menuruti hati nurani saya
sendiri", katanya.

Rock, baru sekedar mode

Musik rock pernah berpengaruh di indonesia, tapi tak berkembang karena baru sekedar mode. dengan tampilnya god bless, perkembangan musik pop pribumi memberikan arti penting. (ms)

MUSIK rock memang lahir lebih belakangan dari jazz atau musik
rakyat. Paling sedikit musik yang berkembang pada tahun 1950-an
itu merupakan hasil campuran antara blues dan musik rakyat. Bill
Haley and The Comets Band, berhasil membikin tonggak dalam
sejarah musik rock dengan lagunya yang populer Rock Around The
Clock. Kemudian penyanyi Elvis Presley dengan Heartbreak Hotel
mengguyur negeri-negeri seluruh dunia dengan musik rock. Namun
walaupun periode ini sangat terasa pengaruhnya di Indonesia, toh
belum ada satu grup pun yang berhasil mengangkat jenis musik itu
secara berhasil.

Sebagaimana musik-musik lama itu sekarang bermunculan kembali,
rock yang sempat menghilang setelah zamannya Elvis Presley
kembali lagi dalam bentuk lebih baru. Rock gaya baru ini, lebih
kaya dan lebih menuntut instrumen musik listrik mutakhir.
Jenis inilah yang berpengaruh besar di lndonesia lewat grup-grup
Emerson Lake Palmer, Deep Purple, The Who. Pada tahun 1970,
Rollies dari Bandung memperkenalkan musik keras (hardrock).
Lalu tumbuhlah grup-grup semacam di beberapa kota besar:
Bandung, Jakarta, Surabaya. Tentu tidak seperti grup-grup luar
negeri yang banyak bertahan lama, grup-grup pribumi seperti AKA,
Rollies, hampir cuma ikut-ikutan saja. "Perkembangan musik rock
di sini dengan publiknya yang masih terbatas - sementara ini
cuma baru sekedar mode saja", ucap Mus Mualim .

Memang. Sebab Rollies, meskipun punya potensi yang luar biasa,
akhirnya mati sendiri. AKA dari Surabaya. yang benar-benar
jantan jika memainkan jenis musik itu mendadak loyo di pabrik
rekaman. Seperti kambing kehujanan. Beberapa grup lagi mencoba
tumbuh, bahkan sering saling bertemu, mislnya pada pesta-pesta
musik terbuka. Tapi tak satu pun yang nampaknya ingin nencoba
bertahan secara utuh. Gejala itu pada dasarnya bisa dibenarkan
juga. Sebab bagaimana bisa hidup, bila musik itu tidak
mendatangkan uang? Sehingga pada umumnya, akhirnya bersikap
seperti AKA, kompromi dengan musik-musik pop komersil. Kalau
perlu apa kata cukong mainkan saja.

Dari kenyataan seperti itu, maka tampilnya God Bless cukup
memberikan arti yang penting dalam perkembangan musik pop
pribumi. Sebab grup ini di samping tetap bertahan dengan musik
rocknya, hasil permainannya pun tidak mengecewakan. Komentar
Mus: "Lagu-lagu yang dibawakan diaransirnya kembali dengan baik.
Tidak asal main. Maka ciri God Bless pun tetap menonjol,
walaupun lagu itu misalnya milik Emerson Lake Palmer atau pun
Deep Purple..."

 

 


© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help